SMovies Menu
Loading Ad...
Teknologi CGI Canggih di Balik Pertempuran Wakanda dalam Infinity War
Behind The Scene, Marvel

Teknologi CGI Canggih di Balik Pertempuran Wakanda dalam Infinity War

T
Tim Editorial NGEFILM
30 Juni 20264 min read
0
0

Film Avengers: Infinity War (2018) adalah sebuah mahakarya teknis. Meramu puluhan pahlawan utama ke dalam satu film merupakan mimpi buruk logistics bagi penulis, dan terlebih lagi, bagi departemen efek visual (VFX). Puncak sinematik dari kolaborasi VFX ini tergambar jelas dalam peperangan di daratan Afrika: Pertempuran Wakanda (The Battle of Wakanda).

Sutradara Joe dan Anthony Russo membutuhkan sebuah lokasi pertahanan terakhir di Bumi untuk melindungi Vision dari serbuan ratusan ribu tentara buas bernama Outriders. Pertempuran di Wakanda memakan porsi waktu sekitar sepertiga babak akhir film dan menjadi saksi bisu adegan spektakuler hingga momen tragis jentikan jari Thanos. Mari kita intip rahasia dapur penggunaan Computer-Generated Imagery (CGI) dalam menciptakan pertempuran ini.

Lokasi Syuting: Tidak Benar-benar Berada di Afrika

Meskipun Wakanda adalah sebuah negara fiktif di Afrika, syuting pertempuran ini sebenarnya tidak dilakukan di Benua Hitam tersebut. Agar logistik ratusan pemeran pengganti dan tim produksi bisa efisien, Marvel menggunakan sebuah peternakan luas yang berada di Chattahoochee Hills, Georgia, Amerika Serikat.

Lahan nyata seluas beberapa hektar ini hanya digunakan sebagai hamparan rumput dasar dan tempat para aktor berlari. Sisanya? Pegunungan di cakrawala, menara-menara istana Wakanda, perisai energi raksasa (Dome), serta danau buatan semuanya ditambahkan sepenuhnya menggunakan CGI pasca-produksi oleh studio efek visual ternama dunia, ILM (Industrial Light & Magic).

Menghidupkan Pasukan Outriders

Dalam naskah, musuh yang harus dihadapi Avengers adalah ras alien buas yang tidak memiliki perasaan bernama Outriders—monster bermata banyak dengan empat hingga enam lengan. Tidak ada satu pun monster fisik atau animatronic di lokasi syuting.

Para aktor seperti Chris Evans (Captain America) dan Chadwick Boseman (Black Panther) aslinya memukul udara kosong atau melawan puluhan stuntman berpakaian kostum motion-capture berwarna abu-abu/hijau. Tim animator ILM mengembangkan sistem simulasi pergerakan kerumunan raksasa bernama Massive (teknologi yang sama yang dipelopori Weta Digital untuk pertempuran di Lord of the Rings). Sistem ini membuat setiap Outrider di belakang barisan bergerak secara otonom agar mereka terlihat seperti tsunami hidup yang saling menginjak satu sama lain.

Keajaiban Kedatangan Thor Sang Penyelamat

Momen paling memacu adrenalin di Infinity War adalah ketika Thor, Groot, dan Rocket Raccoon mendarat dari langit menggunakan kekuatan Bifrost, menghantam bumi, dan Thor berteriak, "BRING ME THANOS!"

Tahukah Anda bahwa proses ini nyaris seluruhnya adalah efek digital? Aktor Chris Hemsworth melakukan lompatan dengan bantuan tali katrol (kabel) di depan blue screen di studio tertutup, bukan di lapangan rumput. Efek petir berwarna biru tajam, puing-puing tanah yang berterbangan, hingga pencahayaan pada setelan zirah Thor direkayasa per- frame untuk memberikan impact yang mengguncang bioskop.

Efek Tragis: Abu Pasca 'The Snap' (Decimation)

Pertempuran diakhiri dengan kekalahan pahit ketika Thanos berhasil menyatukan keenam Infinity Stones dan menjentikkan jarinya. Proses para pahlawan memudar menjadi abu yang tertiup angin membutuhkan sentuhan CGI yang sangat emosional.

Studio VFX bernama Weta Digital ditugaskan untuk menciptakan efek debu tersebut. Arahan dari sutradara adalah: debu tersebut tidak boleh terlihat seperti ledakan berdarah atau terbakar api. Itu harus terlihat seperti pengikisan molekul yang sunyi, lambat, dan menyeramkan. Para animator menggunakan algoritma partikel khusus sehingga serpihan yang terkelupas dari kulit Bucky, Groot, atau Falcon seakan-akan melayang dan larut ke udara, memberikan waktu bagi para karakter untuk merasakan ketakutan sebelum benar-benar lenyap.


Kesimpulan

Keberhasilan adegan Pertempuran Wakanda bukan karena mengandalkan mesin komputer secara membabi-buta, melainkan keseimbangan antara syuting di alam terbuka yang otentik dan polesan ahli dari seniman digital terbaik di dunia. Ini adalah surat cinta atas kemajuan teknologi sinema abad ke-21 yang mampu menghidupkan panel komik gila menjadi realitas layar lebar.

FAQ

Berapa banyak studio VFX yang bekerja di film Infinity War? Saking masifnya beban kerja untuk film ini, Marvel mempekerjakan lebih dari puluhan studio VFX terkemuka di dunia yang berbeda-beda secara serentak, termasuk raksasa seperti ILM, Weta Digital, Framestore, DNEG, dan Cinesite.

Apakah armor Hulkbuster di Wakanda adalah benda fisik sungguhan? Tidak. Mengingat Bruce Banner (Mark Ruffalo) sangat kesulitan menggunakan zirah raksasa Hulkbuster, penampilannya seluruhnya dibuat menggunakan CGI, sementara Mark Ruffalo berakting hanya menggunakan setelan mo-cap dan rig helm pelacak gerak kepala.

Mengapa syuting tidak dilakukan di padang savana sungguhan di Afrika? Tantangan logistik memindahkan kru raksasa sebesar Marvel ke benua lain sangat berat. Selain itu, mereka memerlukan kontrol penuh atas cuaca buatan, peralatan pelacak gerak, dan ruang ganti bagi ratusan figuran, yang jauh lebih mudah dieksekusi di wilayah pinggiran studio di Atlanta, Georgia.

#CGI#Visual Effects#Wakanda#Infinity War
Loading Ad...
Loading Ad...
Loading Ad...